Rabu, 07 Maret 2012

Ceramah singkat tentang Birrul Walidain (Berbakti kepada orang tua)


Puji dan Syukur tak henti kita panjatkan kepada Allah SWT yang tiada henti memberikan nikmat, berkah, dan hidayah-Nya kepada kita semua. Karena nikmat dan hidayah dari Allah berupa keimanan dan keislaman-lah yang membuat kita tetap kokoh berjalan di atas jalan Allah. Dan nikmat kesehatan dan kesempatan dari Allah pula sehingga hari ini kita dapat berkumpul di tempat ini dalam rangka melaksanakan salah satu aktivitas yang merupakan kewajiban kita sebagai umat Islam, yakni menuntut ilmu.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, yang diutus oleh Allah SWT ke muka bumi ini sebagai rahmatan lil alamiin, yang telah menggempur kesesatan dan mengibarkan panji-panji kebenaran, serta memperjuangkan islam hingga sampai kepada kita sebagai rahmat tak terperi dari allah SWT

“Dan  hendaklah kamu berbuat baik  pada ibu bapakmu dengan sebaik – baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua – duanya sampai berumur lanjut dalam pemliharaanmu, maka sekali – kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” ( Al Isra’ ayat 23).
Begitulah Alquran menggambarkan tentang bagaimana manusia harus berbuat baik kepada kedua orang tua. Karena memang sudah sepantasnya dan seharusnya bagi seorang anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, yang demikian itu karena betapa besar jasa keduanya kepada sang anak.
Alqur’an juga menyinggung bagaimana pengorbanan orang tua terhadap anaknya ketika sang anak masih dalam kandungan. Betapa susah dan payahnya sang ibu dalam menjaga kandungannya agar sang anak terlahir dengan sehat dan sempurna. Bagaimana  sakitnya derita yang di tanggung sang ibu ketika menanti detik – detik kelahiran, dia berjuang sekuat tenaga antara hidup dan mati demi si mungil pujaan hati. Dan seberapa banyak keringat yang di keluarkan sang ayah dalam mencari nafkah untuk membahagiakan sang anak yang nantinya akan menjadi pelita ke hidupan mareka, kata – kata lelah tidak pernah terucap dari bibir sang ayah tatkala melihat senyum bahagia dari bibir mungil Si Penyejuk Mata.
Maka dengan tegas Allah memerintahkan dalam al qur’an Surah Al luqman ayat 14  Firmannya.
“Dan kami perintahkan kepada manusia  ( berbuat baik ) kepada dua orang ibu bapanya ; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah – tambah dan menyapihnya dalam dua tahun ., bersyukurlah kepada –Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada –Kulah kembalimu”
Dengan konteks ayat tersebut Allah menghendaki agar sang anak berbakti kepada kedua orang tua mereka dan bersifat lemah lembut kepada keduanya, itupun masih jauh dari cukup bila dibandingkan dengan kepayahan dan kelelahan orang tua dalam mengandung , membesarkan dan mendidik sang anak hingga beranjak dewasa.
Melihat kebesaran perjuangan  orang tua, Allah menghukumkan kepada sang anak wajib bersifat lemah lembut kepada ibu bapaknya dalam berbagai macam dimensi kehidupan Firmanya.
“ Maka sekali – kali kamu janganlah  mengatakan kepada keduanya  perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mareka”
Al qur’an adalah kitab pegangan umat Islam yang sangat sempurna, semua hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan ini telah tercantum dalam kitab yang mulia itu, dan tak terkecuali tentang hakul awlad ‘alal walid dan hakul walid ‘alal awlad (hak anak terhadap orang tua dan hak orang tua terhadap anak). Dalam kontiks ini tidak kurang dari 5 ayat dalam al qur’an ungkapan yang menyinggung tentang birrul walidaini, yang menunjukkan bahwa betapa pentingnya masalah ini.
Selama ini orang tua kebanyakannya hanya menuntut haknya saja, hak minta dihormati , hak minta ditaati, hak minta dikasihi oleh anak – anaknya. Para orang tua kelihatannya terlena dalam memahami makna Birrul Walidaini dengan pemahaman yang sempit, menurut mareka  anak wajib tunduk dan taat ke pada mereka dan  anak wajib menerimanya.
Permasalahan semacam ini kelihatannya sudah menjadi rahasia umum, sering terjadi beda pendapat antara orang tua dan anak. Dan yang sering menjadi korban Power Birrul Walidain adalah  anak.
Doktrin orang tua terhadap anaknya bahwa anaknya wajib taat terhadap mareka berdua. Anak tidak di perbolehkan untuk protes  apapun  yang akan di bebankan kepadanya, kalau  anak berani protes  maka power Birrul Walidain berkata ” Kamu akan menjadi anak yang kualat berani membantah orang tua”.
Apakah benar yang di maksud Alqur’an semacam itu ? tidak ada diskusi dan musyawarah dengan  anak dalam mengambil keputusan, yang akhirnya keputusan itu membuat anak terbebani dan kecewa, yang pada akhirnya kekecewaan itulah penyebab anak berani dengan orang tuanya baik dengan tingkah laku atau perkataan.
Menurut Mahmud Mahdi Al Istanbuli dalam bukunya mendidik anak nakal ( Terjemhan) Katanya “ Lemah lembutlah terhadap anak mu dan bantulah dia untuk mentaati mu, mengoreksi kekurangannya dan memperbaiki kesalahannya  janganlah engaku bersikap keras dan kasar terhadapnya. Dalam suatu hadis Rasulullah SAW pernah bersabda:
Artinya: Allah mengasihi orang tua yang membantu anaknya dalam berbakti kepadanya.Seharusnya orang tua bersikap lemah lembut dalam bertutur dan bertindak. Lebih memikirkan perasaan anak ketimbang perasaan mareka sendiri. Dan mareka seharusnya lebih bijak dalam mengambil keputusan yang nantinya keputusan itu akan di bebankan kepada anak. Namun kebiasaan orang tua selalu otoreter terhadap anak apalagi dalam masalah pendidikan dan perjodohan. Seolah – olah orang tua lebih mengetahui nasib anaknya ketimbang anaknya sendiri, padahal anaklah yang menjalani hidupnya . Sehingga sering terjadi kehancuran masa depan anak akibat keputusan orang tua yang keliru.

 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar